3 Bulan kemudian
SUSHI TEI
"Aris is bla bla bla.... kalian gak akan percaya dia itu, omaigaaaad he's really my mistake." Hana melambaikan tangannya ke udara.
"So? he's out from your life now?" Maria gak sanggup lagi menahan tawanya.
"Katanya dia yang paling 'jago' dan paling tahan." Natalie menimpali Hana, dengan cepat Hana menyambitnya dengan gulungan tisu.
"I can find another. omaigad agaaiiiiin? im 32 and single!!!"
"Miss drama queen.... lower your voice please, atau kamu mau cowok yang lagi makan diujung sana nyamper kesini lagi kayak pas kenal Aris kemarin?" Maria mencubit Hana.
"Ada yang ganteng gak sih?" Hana refleks menoleh kearah meja yang dimaksud Maria, "hey, tapi ada satu tuh berdiri.. hihihi sapa tau kesini tuuuuh... wait... dia bener-bener kesiniii!!" Hana berbisik dan kembali menatap piringnya.
"Oh shit." Natalie bergumam
"Alie"
Pria tadi menuju ke samping kursi Natalie, dengan canggung Natalie berdiri dan menyambut uluran tangan dari pria itu.
"Hai Dim... 8 tahun kamu ga berubah ya.."
Hana menjatuhkan garpunya, dan Maria meneggak air putihnya. Dimas Alfian adalah kryptonite Natalie.
------
Natalie
Hampir 8 tahunm sejak Dimas pergi. pergi tanpa pamit pada Natalie, meninggalkan kamar kos yang sudah kosong ketika Natalie datang mencarinya, Dimas yang memutuskan untuk berjuang di kota lain, meninggalkan kota ini dan Natalie yang sedang jatuh cinta padanya.
"Aku belum bilang aku cinta kamu Dim... belum bilang aku sayang kamu Dim... " bisik Natalie lirih sambil menangis tersedu-sedu di kamar kosong Dimas.
Dimas begitu nyata hari ini, menggengam tangannya lama tanpa berkata-kata. masih seperti dulu tatapannya yang hangat mampu melumerkan semua yang ada di hati Natalie.
"Alie, besok aku tunggu di kafe yang diatas toko buku kesayanganmu ya... "
"Ya dim... whatsapp aja jamnya"
Dimas mengangguk, refleks tangannya terangkat hendak mengacak-acak rambut Natalie seperti yang selalu dilakukannya dulu. tapi gerakan itu terhenti. Dimas menurunkan tangannya dan dengan salah tingkah mengusap celananya.
"Oke, sampe besok Alie"
Natalie menutup mukanya dengan bantal . "DAMN YOU DIMAS ALFIAAAAAAAAAN"
------
Monday, March 2, 2015
Eternity 4
Sejak kecil, ibu mengajarinya untuk mengalah. jangan berebut dengan teman, jangan berantem, kalau marah harus diam karena siapa tahu akan menyakiti orang yang membuatmu marah. Bahkan sejak kecil Natalie diajarkan untuk memikirkan orang lain dibanding kepentingannya sendri, dibandingkan keinginannya sendiri. Natalie ingat bagaimana dia merelakan tidak mainan di ayunan, karena tidak tega merusak kebahagiaan teman-temannya yang sedang naik. Natalie juga rela rotinya diambil cowok nakal di kelasnya karena dia tidak mau bertengkar.
Natalie tidak menangis ketika tabrakan itu merampas keluarganya, dan sekarang ketika Aldi ingin pergi ke sisi wanita itu, Natalie bahkan tidak mau sedikitpun memperjuangkan Aldi.
"if he loves me, he will stay. but he don't..." ucapnya lirih.
wajahnya masih terburai air mata, lengkingan suara katy perry dari ponselnya membuat Natalie sadar dia masih dibutuhkan di dunia ini. Hana membutuhkannya. dengan segera dia beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Starbucks
"Hai... sorry im late!!"
"Lama bangeeet sih Nat, uda berminyak semua ini muka gara-gara nungguin lo..." Hana seperti biasa mengeluarkan omelan.
"Bangun tidur Nat? itu kantung mata gede aja." Maria mencium pipi Natalie
"Hehehe, biasaaaa deadline. sooo?? apa yang kita rayakan hari ni? buset aja kalian... tengah bulan paceklik ngajak ngumpul di starbucks.... so so so...." Natalie menggelengkan kepalanya.
"Aku yang punya acara." Hana mengangkat caramel frappionya
"What? ada berita apa sih?" Natalie ikut mengangkat espressonya
"Only she knows... aku pun daritadi ga dikasih tahu" Mari mengangkat cappucinnonya.
"I've got a job!!! aaaaaaaa" Hana menjerit bahagia, disusul teriakan Maria dan Natalie.
Ketiga sahabat itupun berpelukan, suara mereka yang cukup gaduh membuat beberapa pria di meja sebelah melemparkan pandangan jengkel, tapi dasar pria ... karena tahu ketiga cewek itu cantik dan sexy mereka pun nakal mengeluarkan suitan. Hana dengan reflek bagus mengedipkan mata pada salah satu dari mereka yang langsung dibalas dengan si pria itu meminta dia dan teman-temannya bergabung di meja mereka.
Hana always get what she wants. Pria dengan satu kedipan mata tidak akan mungkin melewatkan Hana yang punya aura sexy sekelas beyonce. Dia selalu mudah menaklukan pria, tapi tidak dengan buntelan kentut yang selalu dibanggakannya kemarin, Vendy bukan pria seperti biasa,.
Maria dan Natalie berjalan pulang berdua. Hana sudah berpisah dengan merekam ikut dengan aris ke klub malam yang paling happening di kota ini. Natalie memeluk bahu sahabatnya, dan menyandarkan kepalanya disana.
"Nat, thanks for not telling Hana... gak tega merusak proses move on dia yang kayaknya sukses." Maria tertawa geli
"Gila, tapi kayaknya Aris tadi cocok buat dia.. tipe Hana banget .. tinggi ganteng klimis... hahahaha mirip Chuck Bass "
"Hahahaha, iya Nat.. bener.. aku juga mikir gitu tadi, selera Hana banget. kita tunggu grup BB kita bunyi-bunyi deh malam ini untuk tau Aris is in or out!"
"Sometimes grup BB kita itu yang bikin aku merasa berenergi setiap hari, selalu kutunggu ributnya kalian disana."
"Akupun Nat, hahahahaha benar-benar penghilang stress. by the way Nat, why you crying?" Maria menghentikan langkahnya, dipandangnya Natalie yang salah tingkah.
"Ohm kangen mama papa aja ... not big things... " Natalie mengalihkan pandangannya dari mata Maria
"Nat, don't lie to me... kita temenan udah dari SD, i know you.." Maria menghentikan langkah Natalie dengan menarik lengan temannya.
"Dia meninggalkan aku."
Maria menarik sahabatnya ke pelukannya . "Go cry! menangislah Nat! i will hug you."
Natalie merasakan kakinya lemas, Maria tidak melepaskan pelukannya, bahkan ketika Natalie berjongkok karena tidak sanggup lagi menahan air matanya Maria masih memeluk dan membelai punggungnya tanpa bicara.
eternity 3
Natalie menghembuskan rokok di balkon terasnya sembari menikmati langit jingga keemasan, di sampingnya duduk aldi, sudah hampir sejam mereka hanya saling bersisian tanpa suara, Aldi sesekali melirik perempuan di sampingnya mencoba mencari celah untuk memulai pembicaraan.
"Nat, i have to go. Kita, udah gak bisa lagi melanjutkan drama ini."
"Drama... jadi yang kemarin kita jalani bertahun-tahun ini hanya drama... " Natalie nampak mulai gelisah, dengan gemetar di cabutnya lagi satu rokok dari bungkusnya.
"Cukup Nat.. sudah, sudah berbatang-batang itu ....." Aldi merampas rokok dari bibir Natalie. "Aku... no not just me Nat, tapi kamu juga tahu... semua uda kelar, apapun itu .. ini akan selesai, besok atau lusa, bulan depan atau setahun lagi, tidak akan ada bedanya Nat... ujung ini harus kita akhiri." wajah Aldi memerah menahan emosi.
"Go away, bawa semua barangmu yang masih ada di apartemen ini."
"Apartemen kita Nat... aku juga masih akan bertanggung jawab utk kelanjutan cicilannya kok, ini masih milik kita."
Natalie sontak meraih asbak dan melemparkannya ke Aldi "INI MILIK GUE!!!! GUE GAK PERLU NGEMISSSS MINTA SAMA LO! GUE YANG DP! SEKARANG LO PERGI!!
"Perempuan sinting!!!"
Aldi berdiri dari duduknya, meninggalkan Natalie sambil mengumpat .
Natalie beringsut masuk ke kamarnya dan melempar apapun yang bisa dijamahnya ke dinding kamarnya. tangisnya pecah tanpa suara, hidup sudah sering memberinya luka dan kecewa dan kali ini lubangnya akan semakin menganga di hatinya.
Tuesday, February 3, 2015
re-run 6
Jarang sekali di jepang aku menemukan orang yang menggerutu dan cemberut. mereka semua sangat ramah, dengan sabar menerangkan ingredients di setiap masakan yang ingin kumakan, memastikan masakan yang aku mkan halal. kadang rasnya kyoto ini jepang beraroma jogja. setiap sudutnya memberi rasa yang gak bakal aku lupakan. aku pasti akan sangat rindu tempat ini. sama sih seperti perasaanku padanya, gak akan pernah lupa bagaimana dylan membuatku gila, dan sekaligus memberikan pelajaran paling berharga dalam hidupku.
"menurutmu kenapa kita bisa bareng?" dylan menyentil jidatku ketika kami sedang duduk berhadapan dengan cup starbucks yang masih penuh.
"takdir tuhan." jawabku ketus
"takdir tuhan... hmmm, tuhan jahat sekali menakdirkan kita punya rasa tapi kita gak bisa jatuh cinta"
"jatuh cinta itu milik anak-anak"
"cintaku juga sudah entah ada dimana? aku lupa. tapi aku tau aku punya rasa sama kamu "
"jadi? kita? apa? " aku mengacak poni dylan dengan gemas.
"kamu sama aku, kita rasanya pacaran."
"rasanya?"
"yes.. its feel like i love you alexa"
dan malam itu pertama kalinya dylan menciumku, ditengah-tengah ramenya starbucks, seperti 2 anak muda yang baru pertama kali pacaran.
Eternity Chapter 2
Lengkingan suara Katy Perry membangunkan Natalie dari tidurnya, ringtone yang dia pasang untuk panggilan dari Maria dan Hana itu sedari tadi terus memekakkan telinganya. Natalie meraba meja disamping tempat tidurnya, meraih blackberrynya. 10 panggilan dari Hana, dan sebuah message.
“SOS, aku rasanya mau mati…”
“Shit!” umpat Natalie, yang bergegas berlari ke kamar mandi.
Tidak butuh lama bagi Natalie untuk sampai di depan kos Hana, bahkan Natalie sempat membeli fried chicken kesukaan Hana dalam perjalanan, taksi yang dinaikinya tadi mengebut gila-gilaan dijalanan.
“HANA!! Buka pintu!” Natalie menggedor pintu kamar Hana.
Suara anak kunci diputar, cukup melegakan Natalie. Paling tidak temannya masih hidup dan belum mati.
“Apa-apaan kamu bbm begitu? Gila! Mau copot jantungku dalam perjalanan kesini.” Natalie menepuk pipi Hana yang terkulai di ranjangnya.
“I’m sick Nat… I can’t face it…” Hana pun terisak lagi. Entah sudah berapa lama dia menangis, kami bertiga terakhir bertemu empat hari yang lalu. Melihat betapa kuyunya dia dan tatanan rambut nan acak kadut itu, sudah jelas menyiratkan Hana tidak ada kehidupan. Perempuan ini tidak bisa tidak tampil cantik, Hana always perfect.
“Come on Han…” Natalie bergerak memeluk sahabatnya.
“I give everything Nat… everything.. everything that I have…” Hana mengulang-ulang terus kalimatnya.
“Good girl, kamu akan baik-baik saja Han… believe me.”
“I can’t live in here anymore Nat.. I can’t.. so many memories, bahkan bau parfumnya pun belum hilang dari bantalku Nat… masih ada jaketnya di balik pintu itu.. belum sempat aku cuci, dia bilang akan kembali Nat… dia bilang padaku akan kembaaliii!!!!” tangisan histeris Hana, membuat Natalie semakin erat memeluknya.
“Oke, bikinlah surat resignmu, nanti kusampaikan ke kantormu. “
Sejam kemudian, Hana mulai tenang. Natalie menatap wajah sahabatnya itu, Hana sudah mandi dan sedang makan fried chicken yang dibawanya. Hana nampak rakus memakannya, entah sudah berapa lama dia tidak makan, cinta berlebihannya pada paijo bun-bun itu membuatnya tampak bodoh bagi Natalie. Natalie adalah perempuan tanpa menye-menye, meskipun love life-nya juga sucks, Natalie sadar terkadang dia sendiri yang memilih kecemplung disana.
Ponsel Natalie kembali berdering, dari ringtonenya, Hana mengenali siapa yang mencari Natalie.
“Aldi?”
“Uhm. Janjian mau ke proyek. Pergi dulu ya Han.. take care, nanti suratmu aku serahkan ke kantormu.”
“Thanks Nat…”
"Yeah, sekarang matilah kalau mau mati... Sudah mandi kan? Paling gak, kamu ditemukan dalam keadaan cantik seperti biasanya orang bertemu denganmu. Love you Han.. "
Hana tertawa, sudah cukup biasa dengan nada bicara Natalie yang cynical. Tapi Hana tahu, separah apapun pertengkarannya dengan Natalie, they have each other.
----
Maria melamun di meja kerjanya, game facebook yang sedari tadi dimainkannya untuk mengalihkan perhatian, sudah tidak sanggup lagi mengalahkan gelisahnya. Diam – diam diminumnya bir, yang sudah dipindahnya ke gelas biasa. Memang dia akan digorok bosnya jika ketahuan bekerja sambil minum. Tapi, salahkan si boss bule itu yang menyimpan se krat bir di pantry sebagai suguhan jika ada relasinya datang. Maria hanya mencuri satu botol dan sudah separuh diminumnya sore ini. Maria bukan seperti Hana yang bisa mengumbar semua masalahnya di hadapan sahabat-sahabatnya. Maria jarang curhat, semua masalahnya ia telan sendiri. Bukan karena tidak mempercayai Hana ataupun Natalie yang sebenarnya sudah bersahabat dengannya sejak sekolah dasar, tetapi Maria berprinsip mengumbar kisahnya sama dengan mengumbar aibnya sendiri.
Tepat pukul lima, maria beringsut berdiri dari mejanya, saatnya pulang kantor dan bertemu dengan sahabat-sahabatnya itu, ada rasa ingin meneriakkan semuanya pada mereka, tentang dia dan Rio.
“Nat!” Maria menghampiri Natalie yang ternyata sudah menjemputnya di depan kantor.
“Yoo… “ Natalie mengayunkan langkahnya mendekati Maria.
“Darimana?” Maria menjajari Natalie, dan berjalan menuju coffee shop yang tidak jauh dari pusat perkantoran mereka.
“Meeting dengan klien, ada aldi juga tadi. Trus dia buru-buru balik ada latihan bulutangkis.” ujar Natalie.
"Nat, im broke up."
"What?!! Apa lagi ini oh Tuhaaaan... Tapi.."
"Cukup Nat, dont ask! Dont ask... Jangan sebut namanya, jangan tanya kenapa dan mengapa. Aku hanya ingin pergi dari kota ini segera."
Natalie terhenyak, dua sahabatnya hanya dalam waktu seminggu semua patah hati. Dan memutuskan ingin pergi semua dari kota ini. Kota tempat mereka menghabiskan 10 tahun ini untuk mencari ilmu dan mencari nafkah disini. Semua menemukan cintanya disini, dan semua patah hati di kota ini. Natalie meredakan emosinya, sejenak dia teringat bahwa ada yang akan menantinya di bulan mei, sebuah perpisahan juga... Tadinya Natalie berpikir, akan ada kedua sahabatnya ini untuk melewatkan hari menakutkan itu.. Tapi sekarang? Melihat kedua wajah sahabatnya ini. Natalie yakin mereka tidak main-main dengan keputusannya.
"Please dont tell Hana Nat... Let me tell her, but not now.."
Maria menatap Natalie, lalu berjalan mendahului natalie masuk ke coffee shop. Tiba-tiba Natalie merasa kesepian. Lebih sepi dari sebelumnya.
Bersambung .....
Eternity
Chapter 1
Every body has a movie in their life. Gila? Yeah inilah dunia. Gila itu bagian dari dunia ini, mau bertahan dengan segala hal yang diluar planningmu? Kamu harus bersiap untuk gila agar bisa melewatinya.
Seperti mereka, ketiga gadis di penghujung usia 20an yang sedang duduk berhadapan di sebuah coffee shop. Maria, bertubuh paling mungil dengan rambut yang bergelombang tergerai sexy melewati pinggang, meskipun paling berwajah imut, tetapi dari segi usia Maria adalah yang paling tua diantara mereka. Hana duduk disampingnya, si sensual itu berkali-kali mengecek make-upnya, memastikan tanpa cacat, extension hair model terbaru tergerai sempurna sampai bahu. Terakhir adalah Natalie yang tampak sibuk mengetik diatas ipadnya, dengan potongan rambut sebahu ala japan-style yang dengan percaya diri diwarnai merah, Look smart dan tegas.
“Nat! taruh itu benda.. atau kulempar nanti!” Hana membentak Natalie yang memang tidak bisa berhenti menyentuh ipadnya.
“Sebentar, masih bikin report. Penjualan bulan ini lumayan naik drastis, ini karena aku bertengkar dengan Aldi hampir di setiap minggu.” Ujar Natalie datar.
“Kalian gila, grafik bertengkar dan omzet penjualan kok dikaitkan. Kalian pasangan gak waras.” Omel Hana lagi, sambil meminum cappucinnonya.
“Memang selalu begitu ya Nat? bertengkar hebat? Lalu penjualan kalian meningkat?” Maria menyela kedua sahabatnya sebelum Natalie akan berbalik membalas Hana.
“Yah, begitulah it’s always happened. Kami kan pasangan gak waras!” dengan kesal Natalie memasukkan Ipadnya ke tas, tak lupa mengambil Marlboro menthol light yang selalu ada di tas hermesnya, segera dinyalakannya dan dihamburkan ke udara, setiap hembusan itu adalah masalah yang ingin Nat keluarkan dari dalam sesak dadanya.
“Aku gak meragukan kalian as a couple Nat.. tapi.. oh come on, dia harus menikahi perempuan lain Nat! leave him! Perjanjiannya untuk kembali padamu setelah bercerai itu bullshit!! “ sekali lagi Hana menceploskan kalimat yang membuat dada Natalie mencelos. Dan si pembuat onar itu tampak tak bersalah dan sedang asik memainkan blackberrynya
“Mar, ada kabar apa dari Rio?” Natalie mengalihkan perhatiannya pada Maria, yang gak lepas dai ponselnya sedari tadi. LDR yang dijalaninya dengan Rio hampir setahun ini cukup berat baginya.
“Dia, sedikit aneh. Aku bertengkar. Tapi.. ah sudahlah malas bicara tentang dia, bicara yang lain saja.” Maria meletakkan ponselnya, lalu memangku dagunya. Pandangannya nanar ke luar jendela.
“Paijoooooo!!!!” tiba-tiba Hana berteriak.
“Kenapa kamu ?” Maria yang kaget spontan memukul punggung Hana.
“How dare!! How dare he…. “ mata hana berkaca-kaca, sekejap tangisnya pecah. Natalie merampas blackberry Hana dan membaca pesan disana. Sebaris kalimat menakutkan dari love of my lifenya.
Bunbun
Mu, kita temenan aja ya… aku menyukai orang lain.
“Hana… “ Natalie meletakkan Blackberry Hana diatas meja, dengan gugup diambilnya lagi sebatang rokok dari tasnya. Sementara Hana menangis di pelukan Maria.
“He slept with me last week!!! How dare!!” Teriakan histeris dan tangisan Hana mengakhiri pertemuan mereka sore itu.
------------------------
Hana
Buat aku, Bun bun adalah segalanya. Impianku sederhana. Memiliki keluarga kecil bersamanya. Memasakkan makanannya, mengasuh anak-anak kami, menyambutnya sepulang kantor, melayaninya sebagai istri yang baik. Istri. Hanya itu cita-citaku being a wife. a housewife. Kisah desperate housewife itu terlalu lebay bagiku. Mana mungkin kamu akan desperate, jika memiliki keluarga kecil dan bahagia bersama orang yang kau cintai? Menghabiskan waktu bersama mereka, melihat mereka tumbuh dan kamu akan menua bersama kekasihmu. Simple, hanya sesimpel itu hidup yang kuangankan. Tiga tahun bersama, menghadapi kedua orangtuanya yang tidak pernah merestui hubungan kami, perbedaan keyakinan yang kami anut, wajah ibunya yang tidak pernah bersahabat, menusukku dari belakang dan mengadu kami berdua. Aku mengalah, setelah bicara dengan ibuku, ak pun berniat mengikuti keyakinannya, buatku Tuhan itu satu, dengan cara apapun kami berdoa itu tidak masalah. Tuhan itu baik, dia akan mendengar semua doa hambanya tanpa peduli dia berasal dari agama apa. Dan setelah semua itu? Buntelan kentut sialan itu mencampakkanku begitu saja, digantikannya aku dengan barbie yang lain. Buntelan kentut itu membawa semua impianku, setelah dia diterima sebagai pegawai pemerintah di sebuah departemen. Dia mencampakanku yang mendoakannya, memberinya dukungan, dan yang setia mengantar jemputnya disaat ujian masuk. Dadaku sesaaaak, sesak penuh amarah, egoku tersakiti.
MARIA
Salah kalau hanya Hana yang paling menderita di coffeeshop tadi. Sebelum kami bertiga bertemu, seharian ini aku stalking facebook Rio, dan menemukan foto profilenya bersama wanita itu. What the hell is going on!!! Aku mengambil banyaaaaaaaaaak resiko ketika memutuskan pacaran dengan pria yang 6 tahun lebih muda dariku ini. Dengan kesungguhannya saat itu, Rio membuatku mengalahkan logika. Setahun yang lalu, dia harus pulang ke Medan. Dengan berat hati kujalani Long Distance relationship ini. Menepis semua pikiran-pikiran buruk yang hinggap dikepalaku kalau ini semua gak akan berhasil. DAMN IT! 5 tahun kujalani ini, dengan usiaku yang sudah lebih 30 ini, dan aku harus patah hati? Tidak! Aku akan bertahan!! Dia gak akan sanggup tanpaku, dia pada akhirnya akan memilihku, dia hanya sedang nakal… nakal diusianya, kenakalan yang wajar. Aku harus sabar… aku akan sabar.
NATALIE
Bagaimana kamu membaca pertanda? Ketika yang disuguhkan padamu adalah banyak kemudahan dan keindahan, tidakkah kamu akan berpikir kalau itu semua adalah sebuah SIGN, tanda… tanda untuk sesuatu yang akan terjadi? Banyak kemudahan dan keindahan berarti pertanda untuk kebahagiaan, sedangkan banyak kesialan adalah pertanda untuk kesedihan. Tapi jangan salah membaca, jika salah… hal sepertiku yang akan didapat.
Aku mengira, segala kemudahan yang kuterima dari Tuhan ketika Aldi datang di kehidupanku adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Dekat dia aku nyaman, dekat dia aku merasa dihargai, dekat dia aku merasa disayangi.
Tepat sebelum kalian tahu jika ternyata bisa mengerikan. Menurutmu? Mengerikan tidak, jika malaikatmu… laki-laki yang kamu pikir terbaiiiik didunia, Karena mau membersihkan muntahanmu ketika kamu mabuk, mau menungguimu ketika kamu sakit, menemanimu sepanjang malam menangis, cowok se sweeeet itu, tidak bisa kamu miliki karena keadaan. Jika tidak ada bisnis yang sedang kami bangun bersama ini, mungkin kami sudah tak bersama. Setiap kami bertengkar,omzet penjualan kami meningkat. Kami menyebutnya “pertanda”
Kami complicated, sama-sama tidak pernah menyampaikan dan mengakui saling tertarik, saling ingin menggenggam tapi kami memutuskan untuk tidak peka. Aku dan Aldi saling menjahati, bergantian melontarkan kata-kata sinis, yang selalu berakhir dengan bertatapan plus mata berair. Kami tidak bisa bersama, karenanya kami menepis jauh keinginan untuk bisa bersama. Terlalu panjang jalan yang harus kami lalui, dan semuanya gak mudah untuk dilewati. Kami hanya bisa menghitung waktu, berapa lama kami bisa saling bersisian. Bertengkar sudah menjadi rutinitas, tapi itu gak menghentikan kami untuk tidak saling bertemu. If I’m not wrong we really in love each other…
Bersambung…
Every body has a movie in their life. Gila? Yeah inilah dunia. Gila itu bagian dari dunia ini, mau bertahan dengan segala hal yang diluar planningmu? Kamu harus bersiap untuk gila agar bisa melewatinya.
Seperti mereka, ketiga gadis di penghujung usia 20an yang sedang duduk berhadapan di sebuah coffee shop. Maria, bertubuh paling mungil dengan rambut yang bergelombang tergerai sexy melewati pinggang, meskipun paling berwajah imut, tetapi dari segi usia Maria adalah yang paling tua diantara mereka. Hana duduk disampingnya, si sensual itu berkali-kali mengecek make-upnya, memastikan tanpa cacat, extension hair model terbaru tergerai sempurna sampai bahu. Terakhir adalah Natalie yang tampak sibuk mengetik diatas ipadnya, dengan potongan rambut sebahu ala japan-style yang dengan percaya diri diwarnai merah, Look smart dan tegas.
“Nat! taruh itu benda.. atau kulempar nanti!” Hana membentak Natalie yang memang tidak bisa berhenti menyentuh ipadnya.
“Sebentar, masih bikin report. Penjualan bulan ini lumayan naik drastis, ini karena aku bertengkar dengan Aldi hampir di setiap minggu.” Ujar Natalie datar.
“Kalian gila, grafik bertengkar dan omzet penjualan kok dikaitkan. Kalian pasangan gak waras.” Omel Hana lagi, sambil meminum cappucinnonya.
“Memang selalu begitu ya Nat? bertengkar hebat? Lalu penjualan kalian meningkat?” Maria menyela kedua sahabatnya sebelum Natalie akan berbalik membalas Hana.
“Yah, begitulah it’s always happened. Kami kan pasangan gak waras!” dengan kesal Natalie memasukkan Ipadnya ke tas, tak lupa mengambil Marlboro menthol light yang selalu ada di tas hermesnya, segera dinyalakannya dan dihamburkan ke udara, setiap hembusan itu adalah masalah yang ingin Nat keluarkan dari dalam sesak dadanya.
“Aku gak meragukan kalian as a couple Nat.. tapi.. oh come on, dia harus menikahi perempuan lain Nat! leave him! Perjanjiannya untuk kembali padamu setelah bercerai itu bullshit!! “ sekali lagi Hana menceploskan kalimat yang membuat dada Natalie mencelos. Dan si pembuat onar itu tampak tak bersalah dan sedang asik memainkan blackberrynya
“Mar, ada kabar apa dari Rio?” Natalie mengalihkan perhatiannya pada Maria, yang gak lepas dai ponselnya sedari tadi. LDR yang dijalaninya dengan Rio hampir setahun ini cukup berat baginya.
“Dia, sedikit aneh. Aku bertengkar. Tapi.. ah sudahlah malas bicara tentang dia, bicara yang lain saja.” Maria meletakkan ponselnya, lalu memangku dagunya. Pandangannya nanar ke luar jendela.
“Paijoooooo!!!!” tiba-tiba Hana berteriak.
“Kenapa kamu ?” Maria yang kaget spontan memukul punggung Hana.
“How dare!! How dare he…. “ mata hana berkaca-kaca, sekejap tangisnya pecah. Natalie merampas blackberry Hana dan membaca pesan disana. Sebaris kalimat menakutkan dari love of my lifenya.
Bunbun
Mu, kita temenan aja ya… aku menyukai orang lain.
“Hana… “ Natalie meletakkan Blackberry Hana diatas meja, dengan gugup diambilnya lagi sebatang rokok dari tasnya. Sementara Hana menangis di pelukan Maria.
“He slept with me last week!!! How dare!!” Teriakan histeris dan tangisan Hana mengakhiri pertemuan mereka sore itu.
------------------------
Hana
Buat aku, Bun bun adalah segalanya. Impianku sederhana. Memiliki keluarga kecil bersamanya. Memasakkan makanannya, mengasuh anak-anak kami, menyambutnya sepulang kantor, melayaninya sebagai istri yang baik. Istri. Hanya itu cita-citaku being a wife. a housewife. Kisah desperate housewife itu terlalu lebay bagiku. Mana mungkin kamu akan desperate, jika memiliki keluarga kecil dan bahagia bersama orang yang kau cintai? Menghabiskan waktu bersama mereka, melihat mereka tumbuh dan kamu akan menua bersama kekasihmu. Simple, hanya sesimpel itu hidup yang kuangankan. Tiga tahun bersama, menghadapi kedua orangtuanya yang tidak pernah merestui hubungan kami, perbedaan keyakinan yang kami anut, wajah ibunya yang tidak pernah bersahabat, menusukku dari belakang dan mengadu kami berdua. Aku mengalah, setelah bicara dengan ibuku, ak pun berniat mengikuti keyakinannya, buatku Tuhan itu satu, dengan cara apapun kami berdoa itu tidak masalah. Tuhan itu baik, dia akan mendengar semua doa hambanya tanpa peduli dia berasal dari agama apa. Dan setelah semua itu? Buntelan kentut sialan itu mencampakkanku begitu saja, digantikannya aku dengan barbie yang lain. Buntelan kentut itu membawa semua impianku, setelah dia diterima sebagai pegawai pemerintah di sebuah departemen. Dia mencampakanku yang mendoakannya, memberinya dukungan, dan yang setia mengantar jemputnya disaat ujian masuk. Dadaku sesaaaak, sesak penuh amarah, egoku tersakiti.
MARIA
Salah kalau hanya Hana yang paling menderita di coffeeshop tadi. Sebelum kami bertiga bertemu, seharian ini aku stalking facebook Rio, dan menemukan foto profilenya bersama wanita itu. What the hell is going on!!! Aku mengambil banyaaaaaaaaaak resiko ketika memutuskan pacaran dengan pria yang 6 tahun lebih muda dariku ini. Dengan kesungguhannya saat itu, Rio membuatku mengalahkan logika. Setahun yang lalu, dia harus pulang ke Medan. Dengan berat hati kujalani Long Distance relationship ini. Menepis semua pikiran-pikiran buruk yang hinggap dikepalaku kalau ini semua gak akan berhasil. DAMN IT! 5 tahun kujalani ini, dengan usiaku yang sudah lebih 30 ini, dan aku harus patah hati? Tidak! Aku akan bertahan!! Dia gak akan sanggup tanpaku, dia pada akhirnya akan memilihku, dia hanya sedang nakal… nakal diusianya, kenakalan yang wajar. Aku harus sabar… aku akan sabar.
NATALIE
Bagaimana kamu membaca pertanda? Ketika yang disuguhkan padamu adalah banyak kemudahan dan keindahan, tidakkah kamu akan berpikir kalau itu semua adalah sebuah SIGN, tanda… tanda untuk sesuatu yang akan terjadi? Banyak kemudahan dan keindahan berarti pertanda untuk kebahagiaan, sedangkan banyak kesialan adalah pertanda untuk kesedihan. Tapi jangan salah membaca, jika salah… hal sepertiku yang akan didapat.
Aku mengira, segala kemudahan yang kuterima dari Tuhan ketika Aldi datang di kehidupanku adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Dekat dia aku nyaman, dekat dia aku merasa dihargai, dekat dia aku merasa disayangi.
Tepat sebelum kalian tahu jika ternyata bisa mengerikan. Menurutmu? Mengerikan tidak, jika malaikatmu… laki-laki yang kamu pikir terbaiiiik didunia, Karena mau membersihkan muntahanmu ketika kamu mabuk, mau menungguimu ketika kamu sakit, menemanimu sepanjang malam menangis, cowok se sweeeet itu, tidak bisa kamu miliki karena keadaan. Jika tidak ada bisnis yang sedang kami bangun bersama ini, mungkin kami sudah tak bersama. Setiap kami bertengkar,omzet penjualan kami meningkat. Kami menyebutnya “pertanda”
Kami complicated, sama-sama tidak pernah menyampaikan dan mengakui saling tertarik, saling ingin menggenggam tapi kami memutuskan untuk tidak peka. Aku dan Aldi saling menjahati, bergantian melontarkan kata-kata sinis, yang selalu berakhir dengan bertatapan plus mata berair. Kami tidak bisa bersama, karenanya kami menepis jauh keinginan untuk bisa bersama. Terlalu panjang jalan yang harus kami lalui, dan semuanya gak mudah untuk dilewati. Kami hanya bisa menghitung waktu, berapa lama kami bisa saling bersisian. Bertengkar sudah menjadi rutinitas, tapi itu gak menghentikan kami untuk tidak saling bertemu. If I’m not wrong we really in love each other…
Bersambung…
intermezzo
yeaaah finally ditengah-tengah proyek tulisan re-run aku malah ada proyek lain bareng nulisbuku. so far hidupku sekarang lebih "hidup" ketimbang sebelumnya. hmm cobaan bertubi-tubi yang kayak ga pernah selo buatku selama 3 tahun ini, uda mulai bisa kuterima. well akupun hanya manusia biasa... hahaha, seneng juga ada bbrp teman yang gak komen disini, tapi langsung kirim ke wat5spa, line dan bbm komentarmya. ttg tokoh alexa yang super duper nyebelin, bahkan mereka mengira ini myt true story. hehehehe
dibilang true story sih gak juga, tapi.... aku memang memasukkan segala perasaan yang pernah kurasakan dalam setiap tulisanku. well agar tokoh ini lebih bernyawa.
sekian dulu deh intermezzonya, lanjutan re-run bakal ada di 2 mggu lagi. akan diseling-seling dengan bbrp cerita pendek yang akan kumasukkan di buku kompilasi. selamat membaca.. semoga tulisan-tulisan saya dapat memberikan banyak rasa untuk kalian semua
love,
Aline_natasha
dibilang true story sih gak juga, tapi.... aku memang memasukkan segala perasaan yang pernah kurasakan dalam setiap tulisanku. well agar tokoh ini lebih bernyawa.
sekian dulu deh intermezzonya, lanjutan re-run bakal ada di 2 mggu lagi. akan diseling-seling dengan bbrp cerita pendek yang akan kumasukkan di buku kompilasi. selamat membaca.. semoga tulisan-tulisan saya dapat memberikan banyak rasa untuk kalian semua
love,
Aline_natasha
Subscribe to:
Posts (Atom)
