Karena kakiku terluka, mas bim tidak mau pergi jalan jauh ke universal studio. Dia mengajakku makan di shinsaibashi. Sebuah restoran tradisional yg menyajikan aneka seafood.
"Masih sakit?"
"Apanya?" tanyaku balik dengan mulut penuh makanan
"Kamu itu kadang lebih mirip anakku yg umurnya 3 tahun dripada cewek dewasa yg 2 minggu lagi menikah lex."
"Badanku sudah gak sakit, hatiku yang sakit." aku menelan makananku nyaris tanpa aku kunyah. Memang sekarang hatiku lebih nyeri daripada lukaku karena ditubruk tadi.
"Kenapa?" suaranya yang lembut membelai telingaku lagi.
"Mas bim... Kenapa, kenapa kamu gak nunjukin dirimu di RS waktu itu.?"
"Karena tidak perlu..."
"Gak perlu? Mas ... Aku selalu mencarimu!"
"Kita bertemu seminggu kemudian di kantin sastra, aku sudah cukup lega lihat kamu sudah sehat. Itu sudah cukup buat mas." abimanyu tersenyum,
"Dylan pergi dgn wanita lain, Kev akan menikahiku karena kasihan, lalu kamu? Apa motifmu mendekatiku sekarang?"
"Alex... Kita gak bisa membeli waktu yang lampau, kalau dulu tidak bisa berarti memamg kita tidak untuk bersama alex... Seberapa besar mencari, jodoh kt sudah ada.. Dan kt gak bs atur itu."
"Jawab saja pertanyaanku kalau kamu bel menikah dan menemukanku sekarang, apa kamu akan menikahiku?"
"Lex.. Saya sudah menikah, tidak bisa menjawab pertanyaan kamu itu, saya ga pandai berangan-angan."
Sontak aku berdiri, menatap wajah pria tampan di depanku lekat2. Kusambar tasku lan bergegas pergi meninggalkannya.
"Alex! Tunggu! Alexaaa"
Ak berjalan semakin cepat, merasakan darah hangat mengalir dari lututku,
"Cukup lex ini kekanak-kanakan! Gak seperti awal kt janji ini akan jadi fun!"
"You lied!! Sejak awal kamu tau aku alexa yg itu, alexa yg kamu perhatikan, perempuan yang kamu selamatkan dari tabrakan. Kamu tau siapa akuuuu panji abimanyu!!! Kamu jahaaaat!"
"Bukan begitu lex! Aku memang ingin mengenal kamu! Bukan mempermainkanmu!"
Aku menatapnya, nafasku memburu.. Aku marah padanya, marah sekali. Aku mendekat kearahnya, "lex.."
Aku meraih kerah jaketnya, wajahnya merunduk, aku menciumnya,memaksanya menerimaku, persetam dengan moral, pelukanku semakin erat, mas memelukku lebih kuat. Menciumku lbh kasar. Here i am.. Winning oscar the most bitch of the year alexa kusuma being kissed with someone husband in front of glico building at osaka.
-re-run10-
Monday, January 4, 2016
Re-run 8
Hostel yg kutinggali gak terlalu jauh dr subway, letaknya pas di tengah2 kawasan paing ramai d osaka. Antara namba dan shinsaibashi. Pagi ini osaka hujan, cukup deras yang membuatku berpikir ulang untuk keluar, jadilah aku duduk di family room hostel sambil menikmati kopi panas dan melon cake jepang yg enak. Mas bim brlum keluar kamar, aku sengaja tidak membangunkan dia, krn semalam kami pulang cukup larut gara - gara aku masih ingin menjajal jalan-jalan tikus di seputaran namba. Hehehe aku cukup sukses mengerjainya wajahnya pucat ketika aku dan dia gak sengaja lewat area red district. Well osaka rainy blues... Seperti judul lagu dari boyband jepang yang sangat aku suka kanjani 8, seperti itulah suasana pagi ini hujan syahdu di osaka.
"Sudah bangun kamu ternyata"
Mas bim menepuk pundakku, matanya masih merah. Tanganku menggenggam cangkir berisi teh, iya aku juga baru tahu ada makhluk di dunia ini yang tidak suka kopi.
"Wkwkwkwk memangnya aku mas, ak kan masih muda.. Jadi ya ga capek kalo cuma jalan segitu."
"Wih, yang kemaren bilang kakinya copot sapa ya? Bukan mas deh perasaan, yg sampai mau minta gendong. Segede itu minta gendong,, dikira aku bawa karung."
"Mas bim!!!!"
"Aduh! Isssh kalo nyubit sakit sekali yaaa"
"Baru dicubit kan... Belum dipatahin hatinya.." aku tergelak
"Sudah aku bilang, kamu yang akan patah hati.. Maka ak bilang hati-hati. Sekarang km mau kmn?"
"Hujan, tapi aku ingin hujan-hujan. Tadi aku tanya hotel, mereka mau meminjamkan payungnya."
"Alexa "
"Ya?"
Abimanyu menarik lengan jaketku. Ak kembali duduk, kami bertatapan. "Kev bilang apa padamu?" tanyanya
"Nothing."
"Nothing with teary eyes."
I really really hate this man, lagi-lagi dia menatapku seperti itu, seperti boneka rapuh yang dipaksanya utk mengaku kalau terbuat dari kaca. Matanya membiusku.
"Dia bilang aku gak perlu pulang lagi, kalau memang tidak ingin pernikahan ini."
"Then?"
"Then ... We have to go now mas bim... " aku beranjak dari kursiku, menepis tangannya yang menggapaiku.
Abimanyu mengikuti langkahku dari belakang, dia tidak menjajari langkahku.
"Alex!"
"Aduh!" aku menjerit,
Mas bim memelukku erat, tubuhku tidak terhempas di trotoar
"Sumimasen deshita, hontoni sumimasen!"
Pengendara sepeda yang ngebut dan menyrempetku meminta maaf sambil membungkukkan badan, pertanda dia sangat menyesal.
"Daijobu oji-san, ano onna wa daijobu."
"Gomenasae!"
Setelah bersalaman, pria tadi pergi. Mas bim mengajakku masuk ke sebuah kedai ramen, memesankan ocha hangat.
"Mas ke sevel sebentar, perlu band aid, siku kamu luka."
"Mas bim, duluuu sekali... Duluuuu " aku terisak, menahan mati-matian air mataku.
"Mas bim... Kamu yg menolongku di dekat kampus kan? Kamu yang membawaku ke sardjito karena aku di tabrak lari... " aku terisak semakin keras, "aku ingat.. Aku ingat sekarang dimana aku mengenalmu abimanyu."
Aku menarik lengannya, memeluknya erat-erat. Pria ini yang kucari ketika aku siuman dari pingsan, tapi ak tak menemukannya, hanya ada Dylan yg datang karena ditelpon seseorang. Tak ada yang tahu siapa nama penolongku saat itu.
"Alex.."
Mas bim mengelus kepalaku, hangat... Aku hangat.. Sama seperti hari itu, ketika jiwaku serasa hendak lepas dari ragaku, ada hangat yg memelukku seperti meminta aku agar tetap hidup.
-bersambung 9-
"Sudah bangun kamu ternyata"
Mas bim menepuk pundakku, matanya masih merah. Tanganku menggenggam cangkir berisi teh, iya aku juga baru tahu ada makhluk di dunia ini yang tidak suka kopi.
"Wkwkwkwk memangnya aku mas, ak kan masih muda.. Jadi ya ga capek kalo cuma jalan segitu."
"Wih, yang kemaren bilang kakinya copot sapa ya? Bukan mas deh perasaan, yg sampai mau minta gendong. Segede itu minta gendong,, dikira aku bawa karung."
"Mas bim!!!!"
"Aduh! Isssh kalo nyubit sakit sekali yaaa"
"Baru dicubit kan... Belum dipatahin hatinya.." aku tergelak
"Sudah aku bilang, kamu yang akan patah hati.. Maka ak bilang hati-hati. Sekarang km mau kmn?"
"Hujan, tapi aku ingin hujan-hujan. Tadi aku tanya hotel, mereka mau meminjamkan payungnya."
"Alexa "
"Ya?"
Abimanyu menarik lengan jaketku. Ak kembali duduk, kami bertatapan. "Kev bilang apa padamu?" tanyanya
"Nothing."
"Nothing with teary eyes."
I really really hate this man, lagi-lagi dia menatapku seperti itu, seperti boneka rapuh yang dipaksanya utk mengaku kalau terbuat dari kaca. Matanya membiusku.
"Dia bilang aku gak perlu pulang lagi, kalau memang tidak ingin pernikahan ini."
"Then?"
"Then ... We have to go now mas bim... " aku beranjak dari kursiku, menepis tangannya yang menggapaiku.
Abimanyu mengikuti langkahku dari belakang, dia tidak menjajari langkahku.
"Alex!"
"Aduh!" aku menjerit,
Mas bim memelukku erat, tubuhku tidak terhempas di trotoar
"Sumimasen deshita, hontoni sumimasen!"
Pengendara sepeda yang ngebut dan menyrempetku meminta maaf sambil membungkukkan badan, pertanda dia sangat menyesal.
"Daijobu oji-san, ano onna wa daijobu."
"Gomenasae!"
Setelah bersalaman, pria tadi pergi. Mas bim mengajakku masuk ke sebuah kedai ramen, memesankan ocha hangat.
"Mas ke sevel sebentar, perlu band aid, siku kamu luka."
"Mas bim, duluuu sekali... Duluuuu " aku terisak, menahan mati-matian air mataku.
"Mas bim... Kamu yg menolongku di dekat kampus kan? Kamu yang membawaku ke sardjito karena aku di tabrak lari... " aku terisak semakin keras, "aku ingat.. Aku ingat sekarang dimana aku mengenalmu abimanyu."
Aku menarik lengannya, memeluknya erat-erat. Pria ini yang kucari ketika aku siuman dari pingsan, tapi ak tak menemukannya, hanya ada Dylan yg datang karena ditelpon seseorang. Tak ada yang tahu siapa nama penolongku saat itu.
"Alex.."
Mas bim mengelus kepalaku, hangat... Aku hangat.. Sama seperti hari itu, ketika jiwaku serasa hendak lepas dari ragaku, ada hangat yg memelukku seperti meminta aku agar tetap hidup.
-bersambung 9-
Sunday, January 3, 2016
re -run 7
duduk didalam kereta ini menuju osaka castle bersamanya, seorang pria yang sering mengamatiku di sebuah kantin 4 tahun lalu di jogja.
kami duduk berseberangan, sesekali aku meminta dia untuk meng-candid fotoku, nyaman juga ada teman seperjalanan, ada yang mengambilkan gambar untukmu. dan sepertinya dia sangat menikmati perannya sebagai guide sekaligus potografer pribadi. salah sendiri memaksa untuk menemaniku jalan-jalan.
"Alexa, lihat keluar... "
aku menolah ke jendela... ratusan pohon sakura mekar disepanjang jalan.. "cantiiiiiiiiik" ak menjerit kegirangan.
"ayo turun disini!" abimanyu menyambar tanganku.. di stasiun sakuranomiya kami berhenti. kota ini seperti namanya, ratusan, ah mungkin ribuan bunga sakura bertebaran...
"aku mau tinggal disini."
"Mimpi! kamu harus pulang alexa! calon suamimu nunggu!!"
abimanyu melangkah mendahuluiku, dengan kameranya dia mulai mengambil gambar. aku ikut mencari spotku sendiri.
"Alexa."
seperti film, seketika aku menolah dia menyerangku dengan jepretan berkali-kali dari canon-nya
"kamu segitu ngefansnya sm aku ya mas bim. ga perlu nyolong-nyolong gt jg ak pasrah kok kalo km mau ambil poto." ujarku sambil kembali fokus dengan spot buruanku7, langit sore dan hamparan sakura
"hidup gak akan bisa diulang alexa, semua pilihan yang kau genggam akan kau genggam selamanya.. itu namanya komitmen."
"situ curhat bim? karena dulu ga mendekati saya dari awal ketemu di kantin."
"saya mengingatkan kamu yang masih galau jadi istri orang. kalau saya.. saya tegas pada pilihan saya."
"Jangan JATUH CINTA SAMA SAYAAAAA!" teriakku
"Kamu yang gak akan pernah lupa sama saya." ujarnya sambil mengulurkan hot coklat kalengan yang dibelinya di vending machine .
kami menyesap coklat panas itu dalam diam, komitmen.. seperti itulah.. hal yang paling aku takutkan, sejak aku harus kehilangan Dylan, tidak pernah menyangka Dylan akan pergi begitu saja dengan perempuan itu, sementara selama ini dia tau aku mengharapkannya. ya aku patah hati berat.
"Alexa, mas gak sama dengan yang lain." seolah-olah tahu isi kepalaku, abimanyu merangkul bahuku.
"sama... cuma mas gak vulgar."
"karena yang kamu butuhkan dimengerti bukan di hakimi"
"jangan ikut antri di depan loketku ya."
"dari awal aku lebih suka jadi penonton, sejak melihatmu menumpahkan kecap di bajumu sendiri Alexa."
"sialaaaaan!" aku tertawa dan menghujaninya dengan cubitan, rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa selepas ini. senja, sakura dan kamu abimanyu.
Re-run 6
di stasiun kyoto aku bergegas naik ke lantai atas, tempat musholla berada. sudah tak sulit untuk melaksanakan kewajiban di jepang, hamnpir di semua tempat umum terdapat musholla yang bisa kt gunakan.
"Indonesia?" suara pria mengagetkanku,
aku melepaskan hodie jaketklu, dan menatap pria itu, fwajahnya familiar "iya saya indonesia"
"saya familiar dengan wajahmu, tapi maaf saya lupa nama kamu.. tapi sepertinya kt pernah bertemu."
"nama saya Alexa."
"saya bim.. abimanyu"
kami berjabat tangan. "sudah makan malam Alexa?" tanyanya dengan suara yang terdengar seperti perintah untukku, entahlah.. karisma pria ini membiusku, dia seperti tahu kalau aku belum makan apapun sejak siang tadi.
"belum bim."
"aku tahu udon enak di stasiun ini, mau?"
aku mengangguk, kami pun berjalan bersisian, "aku sepertinya jg mengenalmu ya bim.. tapi aku lupa. apa kamu juga tinggal di jogja?"
"betul.. mas tinggal di jogja sebentar ketika mengambil S2."
"Mas bim? oh.. sepertinya km lebih tua dariku ya... hahahaha maaf yaa." ak tertawa,
"kamu seperti jauh dibawahku.. kamu juga jogja kan ya?"
"iya mas.. aku jogja.. hampir 10 tahun di kota itu dan belum bosan, jadi mungkinkah kt bertemu di kampus? tapi ak kuliah di UPN dan mas sepertinya ... hmm kalo dari tampilan sih anak UGM."
"wkwkwkwk bagaimana bisa km menilai seseorang kuliah drmn dengan penampilannya."
"anggap saja aku cenayang."
abimanyu tertawa terbahak-bahak. wajahnya tampan, mengingatkan aku pada seseorang yang mungkin mmg dia.. tapi aku lupa. tapi sepertinya kami tidak asing dan canggung satu - sama lain.
mas bim menarik kursi untukku, lalu memesan dengan bahasa jepang yang cukup lancar kepada pelayan .
"Alexa sekolah di jepang?"
"Aku kabur sejenak dari hectic pernikahanku"
Mas bim meletakkan gelas ochanya, menatapku tajam. oh shit i hate this man, baru setengah jam lalu berkenalan dan sekarang aku sudah duduk dengan tatapan matanya yg menelanjangiku.
"Kenapa harus kabur?, calonmu mana? kenapa tidak mengejarmu kesini? kalian bertengkar?"
"Tidak, dia membiarkan aku pergi. aku hanya ingin waktu sendiri untuk memastikan cintanya padaku."
"Untung istriku tidak segila itu ya dulu." Abimanyu tertawa
"Kamu menikah?"
"Iya sudah... sudah lama... 4 tahun"
aku menarik tubuhku mundur "wow, menikah muda."
"Iya, untuk apa ditunda Alexa."
"Sepertinya kamu jarang patah hati, mudah bgt bilang gitu." dengan sinis aku membalas kalimatnya
"Kamu sering patah hati? ckckckck... secantik kamu sering patah hati yang salah siapa? cowoknya apa kamu yang suka memberi harapan palsu?
aku melotot, melempar gulungan serbet yang ada disampingku. abimanyu tertawa.
"Mungkin karena kamu belum pernah bertemu pria sepertiku? bisa jadi... "
"Mas juga playboy? liat cewek cantik sedikit sudah disapa aja diajak makan."
"Ini bukan yang pertama kita makan sama-sama nona.. kita pernah makan di kantin sastra ugm, kamu duduk di depanku."
aku meletakkan sumpitku, " hontoni?" aku memandangnya tak percaya
"Iya aku ingat, kamu makan di depanku, kita sempat bertukar pandang karena kau mencuri pandang juga kearahku berkali-kali. aku tau namamu Alexa, karena temanmu, yang kurus tinggi cantik juga memanggilmu begitu."
"Kamu stalker!"
"Aku hanya pengagum rahasiamu waktu itu, setiap jumat kamu makan disana."
"sudah menikah waktu itu?"
"belum."
"lalu sekarang sudah menikah justru menggodaku, apa maumu abimanyu." ujarku ketus
"bertemu lagi di negara orang, hanya kamu dan aku yang bisa bicara bahasa indonesia, kebetulan yang sangat kebetulan, sayang dilewatkan."
"apa yang menarik dariku? sampai kamu stalking aku?"
"gak stalking ak hanya bertemu denganmu 5 kali di kantin itu, kamu menarik, mas suka."
"ini gila, wkwkwkwk... "
"Brapa lama kamu disini?"
"seminggu, 4 hari lagi aku pulang."
"kuliahku juga sedang libur, biar mas temani alexa jalan."
Lagi-lagi suaranya terdengar seperti kalimat perintah. Aku menatapnya dan menganggukkan kepala.
" Kamu naksir aku?" tanyaku sambil menyesap hangatnya ocha teh khas jepang ini
"Kamu mulai tertarik padaku?" Abimanyu menyilangkan lengannya sambil menatapku
-bersambung 7-
Sunday, September 20, 2015
Noteself 1
BAHAGIALAH SESUAI VERSIMU
"Aduh bahagianya uda nikah."
"Aduh bahagianya punya anak."
"Aduh bahagianya punya suami baik."
Sering denger? Sering pasti. Itulah sebagian besar penduduk indonesia kadar bahagia diukur dengan yg penting km uda nikah, yg penting di umur krusial km harus nikah km uda punya pacar dan ada yg mglamar, dan setelah nikah kamu akan dianggap bisa bahagia klo uda bisa hamil lalu punya anak.
Gitu yg turun temurun di masyarakat. Seberapa keren kerjaan km, klo km bukan pegawai atau bukan PNS bakal kalimat ini yang keluar "oh jualan."
Dengan ekspresi yg *oh... Lo bakul*
Seberapa mentereng rumah km, seberapa keren mobil kamu, ttp akan dibilang "kasihan ya blm nikah2"
Susah mmg hidup di indonesia dgn padangan yg bgini. Hihihi tp ya gitu deh...
Yes yg lagi ketawa you got my point.. Pasti km jg ga punya kerjaan keren sbg pegawai 😆 atau skrg di usia krusial kudu nikah versi masyarakat tp km blm nikah2 juga.
Back to topic, bahagia seperti versimu. Sebenernya ttp aja fokus pada apa yg jadi impianmu, apapun yg blm km dapat.. Klo itu dianggap orang km pasti ga bahagia, jgn biarkan itu jd duri dalam perjalanan hidupmu. Terus bersyukur utk setiap nafas yg km punya, utk setiap aktivitas yg km miliki. Bahagia itu dari hatimu... Bahagia itu.. Km yg ciptakan . Bahagia itu milikmu, bukan milik omongan orang. Go get your own happiness
Selamat menjelang hari senin, ttp semangat
Love,
Aline 😘
"Aduh bahagianya uda nikah."
"Aduh bahagianya punya anak."
"Aduh bahagianya punya suami baik."
Sering denger? Sering pasti. Itulah sebagian besar penduduk indonesia kadar bahagia diukur dengan yg penting km uda nikah, yg penting di umur krusial km harus nikah km uda punya pacar dan ada yg mglamar, dan setelah nikah kamu akan dianggap bisa bahagia klo uda bisa hamil lalu punya anak.
Gitu yg turun temurun di masyarakat. Seberapa keren kerjaan km, klo km bukan pegawai atau bukan PNS bakal kalimat ini yang keluar "oh jualan."
Dengan ekspresi yg *oh... Lo bakul*
Seberapa mentereng rumah km, seberapa keren mobil kamu, ttp akan dibilang "kasihan ya blm nikah2"
Susah mmg hidup di indonesia dgn padangan yg bgini. Hihihi tp ya gitu deh...
Yes yg lagi ketawa you got my point.. Pasti km jg ga punya kerjaan keren sbg pegawai 😆 atau skrg di usia krusial kudu nikah versi masyarakat tp km blm nikah2 juga.
Back to topic, bahagia seperti versimu. Sebenernya ttp aja fokus pada apa yg jadi impianmu, apapun yg blm km dapat.. Klo itu dianggap orang km pasti ga bahagia, jgn biarkan itu jd duri dalam perjalanan hidupmu. Terus bersyukur utk setiap nafas yg km punya, utk setiap aktivitas yg km miliki. Bahagia itu dari hatimu... Bahagia itu.. Km yg ciptakan . Bahagia itu milikmu, bukan milik omongan orang. Go get your own happiness
Selamat menjelang hari senin, ttp semangat
Love,
Aline 😘
Monday, July 6, 2015
coincidence
hai, sebenernya uda mo brenti nglanjutin eternity disini.. lagi proses uda jadi draft novel 150 halaman. nulisnya dari 2012 sampe hari ini baru dapat endingnya... iyaaaa lamaaaa bgt, krn.. semuanya ditulis dari hati. 3 karakter itu sangat real, dan bbrp fragmennya saya comot dari kejadian sehari-hari sahabat-sahabat saya.
clue buat endingnya? semua bahagia... kita bukan princess disney.. kita, kami, kamu... punya standar bahagia sendiri-sendiri. penasaran bagaimana kami menemukannya? tunggu yaaah ^^
sampai ketemu di pecahan-pecahan karya saya yang lain ya..
ciao
Eternity 7
NATALIE
Masih sama, Dimas masih seperti yang dulu. sopan, pintar dan bersahaja, auranya sebagai seorang pemimpin dari ribuan karyawan memang sangat karismatik. tapi... rasa itu tak lagi sama, hangat yang biasa dialirkannya ke aku tidak lagi sama. mungkinkah pada akhirnya aku dan dia bertumbuh dengan sendirinya menjadi pribadi yang lain... kami mungkin memang tidak diciptakan untuk selalu support . karena dengan berdiri sendiri-sendiripun kami mampu. dimas meraih cita-citanya dgn dirinya sendiri , tanpa aku, tanpa siapapun... dukungan keluarganya sudah lebih dari cukup. keinginannya untuk membahagiakan orangtuanya sudah cukup kuat untuk membawanya ke puncak karir.
penyampaian peraaanku pada Dimas akhirnya berhenti disini. 8 tahun ini selalu kubandingkan dengan siapapun yang menggantikannya di hidupku. tapi, setelah diberi kesempatan bertemu Dimas lagi aku ternyata sadar dulu sekarang tidak pernah berbeda. he's just not into me
Subscribe to:
Posts (Atom)
